Rabu, 14 Mei 2014

LCGC Sudah Beri 'Upeti' Rp 1,6 Triliun ke Pemerintah

 
 
Jakarta - Selama ini segmen kendaraan Low Cost and Green Car (LCGC) banyak dinilai negatif beberapa kalangan. Salah satunya dengan adanya LCGC penggunaan BBM bersubsidi menjadi meningkat, maka dari itu pemerintah tengah memikirkan cara agar mobil LCGC tak lagi bisa menggunakan BBM subsidi.

Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia Jongkie D Sugiarto meminta pemerintah jangan hanya menilai LCGC dari segi negatifnya saja, tapi LCGC ini dari awal diluncurkan hingga saat ini sudah terjual sebanyak 80.000 unit. Dengan begitu sudah Rp 1,6 triliun yang sudah disumbangkan LCGC ke pemerintah.

"LCGC sudah 80.000 yang terjual, hitung saja 1 mobil dijual Rp 100 juta, jadi totalnya Rp 8 triliun. Pemerintah memang memberikan pajak (PPnBM) 0 persen, tapi PPN (Pajak Pertambahan Nilai) 10 persen ke pemerintah dan juga BBN 10 persen ke pemerintah daerah. Pemerintah pusat dapat 10 persen pemerintah daerah 10 persen, jadi totalnya 1,6 triliun," beber Jongkie di Jakarta, Senin (12/5/2014).

Untuk diketahui, pemerintah juga tengah bencana untuk melarang setiap pengguna mobil Low Cost and Green Car (LCGC) menggunakan bensin bersubsidi. Banyak hal yang dilakukan pemerintah untuk menjegal LCGC.

"Jangan dilihat dari negatifnya saja dibilang pakai BBM subsidi naik, tapi LCGC juga sudah menyumbang Rp 1,6 triliun kepada pemerintah kas pemerintah pusat dan daerah," ujar Jongkie

Kementerian Perindustrian mengusulkan agar nozzle (mulut pipa) untuk mengisi bahan bakar minyak (BBM) kendaraan bermotor dipilah dengan spesifikasi RON 92 dan RON 88 yang disubsidi pemerintah.

Hal itu agar mobil murah ramah lingkungan (LCGC) hanya dilengkapi nozzle RON 92 ke atas sehingga tidak bisa diisi BBM subsidi.